Kelas 10 Bab 3: Menjalani Hidup Penuh Manfaat dengan Menghindari Berfoya-foya, Riya, Sum'ah, Takabbur, dan Hasad
Menghindari Sifat Hidup Berfoya-Foya
Islam
melarang perilaku berlebih-lebihan atau melampaui batas (israf) dan
boros (tabzir) dalam membelanjakan harta, keduanya termasuk perbuatan
setan. Sebaliknya, Islam menganjurkan umatnya untuk hidup bersahaja, seimbang
dan proporsional.
Firman
Allah Swt. dalam Q.S. al-Isra ayat 26 – 27:
Teks
Latin:
Artinya:
“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang
yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghamburhamburkan (hartamu) secara
boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan
setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Q.S al-Isra’/17: 26-27)
Dalil
Al-Qur'an Q.S al-Furqan ayat 67:
Artinya:
“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orangorang yang apabila
menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di
antara keduanya secara wajar”. (Q.S al-Furqan/25: 67)
Nah
berikut ini beberapa contoh perilaku israf dan tabzir yang harus
kita jauhi:
- Mengambil makanan terlalu banyak dan tidak
dihabiskan.
- Berkata-kata yang tidak penting dan tidak
perlu.
- Memakai perhiasan emas yang berlebihan
bagi wanita, contohnya pakai gelang emas 10 biji di tangan berderet.
Tentu
saja sikap-sikap ini menimbulkan dampak negatif, antara lain:
- Terlalu sibuk mengurusi kebahagiaan
duniawi, melalaikan akhirat.
- Menimbulkan sifat iri, dengki, dan pamer.
- Dapat memicu frustasi apabila hartanya
habis.
- Berpotensi menimbulkan sifat kikir.
Cara
mencegah sifat tersebut adalah:
- Membelanjakan harta sesuai dengan skala
prioritas kebutuhan.
- Membiasakan bersedekah dan membantu orang
lain.
- Bergaya hidup sederhana dan selalu
bersyukur.
Menghindari Sifat Riya’ dan Sum’ah
Secara
bahasa, sum’ah berarti memperdengarkan. Secara istilah, sum’ah yaitu
memberitahukan atau memperdengarkan amal ibadah yang dilakukan kepada orang
lain agar dirinya mendapat pujian atau sanjungan.
Sedangkan
riya’, secara bahasa berarti menampakkan atau memperlihatkan. Secara istilah,
riya’ yaitu melakukan ibadah dengan niat supaya mendapat pujian atau
penghargaan dari orang lain. Rasulullah Saw. menegaskan bahwa riya’ termasuk syirik
khafi, yaitu syirik yang samar dan tersembunyi. Selain itu sifat riya’ itu
menyebabkan amal ibadah menjadi sia-sia.
Dalil
Al-Qur'an Q.S. al-Baqarah ayat 264:
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang
menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman
kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin
yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka
tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari
apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
kafir.” (Q.S. al-Baqarah/2: 264)
Riya’
sendiri ada dua tingkatan, yaitu riya’ khalish (melakukan ibadah hanya untuk
pujian manusia semata) dan riya’ syirik (niat menjalankan perintah Allah
sekaligus ingin mendapatkan sanjungan orang lain).
Ciri-ciri
orang yang memiliki sifat riya’ dan sum’ah:
- Selalu menyebut dan mengungkit amal baik
yang pernah dilakukan.
- Beramal hanya sekadar ikut-ikutan bersama
orang lain.
- Melakukan amal kebaikan apabila sedang
berada di tengah khalayak ramai.
Dampak
negatif dan cara menghindari:
- Dampak: Muncul rasa tidak puas dan gelisah
atas amal yang dikerjakan, merusak nilai pahala, serta mengurangi simpati
orang lain.
- Cara Menghindari: Meluruskan niat karena
Allah Swt., menyadari status sebagai hamba, memperbanyak rasa syukur, dan
ingat kematian.
Menghindari Sifat Takabbur
Takabur
adalah sikap seseorang yang menunjukkan sifat sombong atau merasa lebih kuat,
lebih hebat dibanding orang lain. Sifat takabur termasuk penyakit hati yang
sangat dibenci oleh Allah Swt.
Firman
Allah dalam Q.S al-Araf ayat 40:
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan
diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan
mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.” (Q.S
al-A’raf/7: 40)
Dalil
Al-Qur'an Q.S. al-Araf ayat 36:
Artinya:
“Tetapi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri
terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”. (Q.S
al-A’raf/7: 36)
- Dampak Negatif: Dibenci oleh Allah Swt.
dan Rasul-Nya, dijauhi masyarakat, mata hati terkunci dari hidayah, serta
mendapatkan kehinaan di neraka.
- Cara Mencegah: Menyadari kekurangan diri,
menyadari hidup di dunia hanya sementara, rendah hati (tawadhu’),
dan ikhlas dalam beribadah.
Menghindari Sifat Hasad
Hasad
adalah sifat seseorang yang merasa tidak senang terhadap kebahagiaan orang lain
karena memperoleh suatu nikmat dan berusaha menghilangkan nikmat tersebut.
Dalil
Al-Qur'an Q.S an-Nisa ayat 32:
Artinya:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah
kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada
bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari
apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia- Nya.
Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S an-Nisa’/4: 32).
Menurut
Imam Ghazali, ada tiga jenis hasad:
- Mengharapkan hilangnya nikmat orang lain
agar ia mendapatkannya.
- Mengharapkan orang lain menderita meskipun
ia tidak mendapatkan apa-apa.
- Merasa tidak ridha terhadap nikmat Allah
kepada orang lain (benci jika orang lain menyamai atau melebihi dirinya).
Sifat
hasad akan menghilangkan kebaikan yang dimiliki seseorang, sesuai dengan Sabda
Rasulullah Saw. berikut ini:
Latin:
"Iyyākum wal-hasada, fa-innal-hasada ya’kulul-hasanāti kamā
ta’kulun-nāru al-haṭaba."
Artinya:
“Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Saw. bersabda:’ jauhilah hasad (dengki),
karena hasad dapat memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar”. (H.R. Abu
Dawud)
Dampak
negatif dan cara mencegah:
- Dampak: Menentang takdir Allah Swt., hati
menjadi susah, meremehkan nikmat Allah, dan merendahkan martabat orang
lain.
- Cara Mencegah: Meyakini keadilan Allah
Swt., memperbanyak rasa syukur, rendah hati (tawadhu’), dan
mempererat tali silaturahmi.