Kelas 10 Bab 5: Meneladani Peran Ulama Penyebar Ajaran Islam di Indonesia
Masuknya Agama Islam di Indonesia
Wilayah
Nusantara sangat luas, posisi geografisnya terletak di persimpangan jalur
perdagangan antara India, Cina dan Arabia. Maka sulit untuk memastikan wilayah
mana yang pertama kali menerima ajaran Islam. Oleh karena itu, ada beberapa
teori tentang masuknya agama Islam di Indonesia sebagaimana diungkapkan oleh
Ahmad Mansyur Suryanegara dalam buku “Api Sejarah Jilid 1”. Teori-teori
tersebut, antara lain:
- Teori Gujarat oleh Prof. Dr. C. Snouck
Hurgronje
Menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia dari Gujarat. Wilayah Kerajaan Samudra Pasai merupakan daerah pertama penerima ajaran agama Islam, yakni pada abad ke-13 Masehi. Teori ini tidak menjelaskan secara rinci antara masuk dan berkembangnya Islam di wilayah ini. - Teori Makkah oleh Prof. Dr. Buya Hamka
Menurutnya, Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 Masehi. Berdasarkan Berita Cina Dinasti Tang, ditemukan pemukiman saudagar Arab di wilayah pantai barat Sumatera. Kerajaan Samudra Pasai didirikan pada abad ke-13 M atau tahun 1275 M, artinya bukan awal masuknya Islam tetapi merupakan perkembangan agama Islam. - Teori Persia oleh Prof. Dr. Husein
Djajadiningrat
Menurut teori ini, Islam masuk dari Persia dan bermazhab Syi’ah. Teori ini dipandang lemah, karena tidak semua pengguna sistem baca tersebut di Persia sebagai penganut Syi’ah. Sedangkan, mayoritas muslim Jawa Barat bermazhab Syafi’i sekaligus berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan pengikut Syi’ah. - Teori Cina oleh Prof. Dr. Slamet Muljana
Menurut Slamet Muljana, Sultan Demak merupakan keturunan Cina. Lebih dari itu, menurutnya Wali Songo juga merupakan keturunan Cina. Tetapi, menurut kebudayaan Cina, penulisan sejarah yang terkait dengan penulisan nama tempat dan nama orang yang bukan dari negeri Cina, juga ditulis menurut bahasa Cina. - Teori Maritim oleh N.A. Baloch
Hubungan perdagangan ini semakin lancar pada masa Khulafaur Rasyidin (11-41 H/632-661 M). Walaupun di Makkah dan Madinah terjadi perang selama kurun waktu sepuluh tahun antara 1-11 H/622-623 M, namun tidak memutuskan jalur perdagangan laut yang sudah menjadi tradisi sejak lama. Menurut N.A. Baloch, hal itu terjadi karena umat Islam memiliki kemampuan dalam penguasaan perniagaan melalui jalur maritim. Melalui jalur ini, pada abad ke-1 Islam dikenalkan di sepanjang jalur niaga di pantai-pantai tempat persinggahannya.
Perkembangan Kesultanan di Indonesia
Masa
perkembangan agama Islam adalah kurun waktu pada saat umat Islam telah
membangun kesultanan sebagai bentuk kekuasaan politik.
- Bukti Awal:
Terdapat bukti kesultanan Samudra Pasai di Sumatera Utara pada abad ke-13
M, dan kesultanan Leran di Gresik Jawa Timur pada abad ke-11 M.
- Islamisasi:
Perkembangan Islam di Indonesia semakin meluas seiring dengan banyaknya
raja-raja Hindu yang memeluk Islam. Dengan demikian, terbentuklah
kesultanan Islam di berbagai wilayah di Indonesia. Istilah kerajaan
berubah menjadi kesultanan, dan istilah raja berubah menjadi sultan.
- Faktor Rakyat:
Rakyat berbondong-bondong masuk Islam karena syarat masuk Islam sangat
mudah (mengucapkan syahadat), lebih dari itu Islam tidak mengenal sistem
kasta.
- Pengaruh Luar:
Tumbuhnya kesultanan Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sebab
timbulnya politik di luar Indonesia, seperti Periode Khulafaur Rasyidin,
Bani Umayah, Bani Abbassiyah, Fathimiyah hingga Kesultanan Turki Ustmani.
Kemudian diikuti dengan runtuhnya pengaruh Hindu Budha di India, dan
munculnya Kerajaan Moghul.
- Periodisasi Sejarah Indonesia:
- Zaman Animisme dan Dinamisme.
- Zaman Hinduisme dan Buddhisme.
- Zaman Islamisme.
- Zaman Katolikisme dan Protestanisme.
Tokoh Penyebar Ajaran Islam di Indonesia
- Sultan Malik al-Saleh (1267 – 1297 M)
Meurah Silu atau Sultan Malik al-Saleh merupakan pendiri dan raja pertama Samudra Pasai (berdiri pada tahun 1267 M). Kesultanan Samudra Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Peurlak dan Kerajaan Pase. Setelah masuk Islam, Meurah Silu bergelar Sultan Malik al-Saleh, dan berkuasa selama 29 tahun. Semasa berkuasa, sempat menerima kunjungan dari Marco Polo, yang mencatat bahwa Sultan Malik al-Saleh merupakan raja yang kaya dan kuat pengaruhnya. Beliau wafat pada tahun 1297 M, dan kepemimpinan digantikan oleh Sultan Muhammad Malik al-Zahir (1297-1326 M). - Sultan Ahmad (1326 – 1348 M)
Beliau merupakan sultan Samudera Pasai yang ketiga, bergelar Sultan Malik al-Thahir II. Pada masa pemerintahannya, Kesultanan Samudra Pasai dikunjungi oleh seorang penjelajah dari Maroko, yaitu Ibnu Batutah. Menurut catatan Ibnu Batutah, Sultan Ahmad sangat memperhatikan perkembangan dan kemajuan agama Islam. - Sultan Alaudin Riayat Syah (1538 – 1571 M)
Beliau merupakan sultan Aceh ketiga, terkenal sebagai peletak dasar-dasar kejayaan Kesultanan Aceh. Beliau berperan dan berjasa dalam penyebaran Islam di wilayah Aceh. Beliau mendatangkan ulama-ulama dari Persia dan India untuk mengajarkan agama Islam di Kesultanan Aceh. Bahkan pada masa kepemimpinannya, ajaran Islam sampai ke Minangkabau dan Indrapura. - Wali Songo (1404 – 1546 M)
Wali Songo merupakan sembilan wali atau sunan yang menjadi pelopor penyebaran Islam di Pulau Jawa. Mereka menggunakan berbagai saluran dakwah, di antaranya kebudayaan, kesenian, pendidikan, pernikahan, perdagangan, dan politik. Penyebaran Islam di seluruh wilayah Nusantara dipengaruhi oleh jalur perdagangan dari berbagai negara, seperti Persia, India, dan Arab. Nama-nama Wali Songo tersebut adalah: - Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
- Raden Rahmat (Sunan Ampel)
- Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
- Raden Paku (Sunan Giri)
- Syarifuddin (Sunan Drajat)
- Raden Mas Syahid (Sunan Kalijaga)
- Ja’far Shadiq (Sunan Kudus)
- Raden Umar Said (Sunan Muria)
- Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
- Sultan Alauddin
Nama aslinya adalah I Manga’rangi Daeng Manrabbia, dinobatkan sebagai raja Gowa pada usia tujuh tahun. Beliau termasuk tokoh yang berjasa besar pada penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. Beliau berhasil mengislamkan kerajaan Soppeng, Wajo, dan Bone. - Datuk Tunggang Parangan
Datuk Tunggang Parangan atau Habib Hasyim bin Musyayakh bin Abdullah bin Yahya merupakan seorang ulama Minangkabau yang berdakwah di Kutai Kartanegara. Beliau berdakwah bersama sahabatnya, Datuk Ri Bandang pada masa pemerintahan Raja Aji Mahkota (1525 – 1589). Agama Islam berkembang pesat pada masa ini, bahkan undang-undang negara berlandaskan pada ajaran Islam. - Sultan Zainal Abidin
Beliau memerintah Kesultanan Ternate pada kurun waktu 1486-1500 M. Salah satu peran terpenting Sultan Zainal Abidin dalam penyebaran agama Islam adalah mendirikan pesantren-pesantren dengan pengajar yang didatangkan langsung dari Jawa. Gerakan islamisasi yang dilakukan oleh Sultan Zainal Abidin ini diikuti dan ditiru oleh raja-raja lain di Maluku. - Ulama Indonesia yang Bermukim di Mekah
- Berasal dari Banten:
Nawawi, Abdul Karim, Marzuqi, Ismail, Arsyad bin As’ad dan Arsyad bin
Alwan.
- Berasal dari Priangan:
Mahmud dan Hasan Mustafa.
- Berasal dari Batavia:
Mujitaba, ‘Aydarus, dan Junayd.
- Berasal dari Sumbawa:
Umar dan Zainudin.
Keteladanan Para Ulama Penyebar Ajaran Islam di Indonesia
Berikut
ini di antara nilai keteladanan dari para penyebar tokoh Islam di Indonesia:
a. Hidup sederhana
b. Gigih dalam berjuang
c. Menguasai ilmu agama secara luas dan mendalam
d. Produktif berkarya
e. Sabar
f. Menghargai perbedaan
g. Berdakwah secara damai