Kelas 11 BAB 10: Peradaban Islam pada Masa Modern
Dunia terus berubah dengan sangat cepat. Di tengah perubahan ini, tantangan bagi umat Islam semakin kompleks. Materi ini membahas tentang kondisi peradaban Islam pada masa modern, pemikiran tokoh-tokoh pembaharu, hingga pengaruhnya bagi bangsa Indonesia.
A. Kondisi Islam pada Masa Modern
Di awal periode ini, kondisi dunia Islam secara politis berada di bawah kendali kolonial. Pada saat itu, Eropa mengalami kemajuan dalam ilmu pengetahuan. Teknologi perkapalan dan militer berkembang pesat, sehingga Eropa menjadi penguasa lautan dan bebas melakukan kegiatan ekonomi dan perdagangan ke seluruh dunia.
Sementara itu, pada awal abad ke-18, Kerajaan Safawi dan Kerajaan Mughal hancur pada paro kedua abad ke-19 M di tangan Inggris. Kelemahan kerajaan-kerajaan Islam itu menyebabkan Eropa dapat menjajah negeri-negeri Islam dengan mudah. Baru pada abad ke-20 M, dunia Islam bangkit memerdekakan negerinya dari penjajah Barat. Padahal pada periode klasik (650-1200 M), Islam mengalami masa keemasan.
Pada masa modern ini muncul kesadaran umat Islam terhadap kelemahan dirinya dan adanya dorongan untuk memperoleh kemajuan dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam dikenal dengan gerakan modernisasi atau pembaruan yang didorong oleh tiga faktor:
Faktor Pendorong Pembaruan:
- Pemurnian ajaran Islam dari unsur-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam.
- Menimba gagasan pembaruan dan ilmu pengetahuan dari Barat. Hal ini dilakukan dengan pengiriman pelajar muslim ke Eropa dan gerakan penerjemahan karya-karya Barat ke dalam bahasa Arab.
- Kondisi negara-negara Arab (seperti Mesir dan Turki) yang berada di bawah jajahan negara-negara Eropa, khususnya Perancis.
B. Tokoh-Tokoh Islam pada Masa Modern
1. Muhammad Ali Pasya (1765 – 1849 M)
Tokoh ini adalah pelopor kebangkitan Islam di Mesir yang berhasil membebaskan Mesir dari kekuasaan Napoleon. Sultan di Turki kemudian merestuinya menjadi wali Mesir. Pemikirannya meliputi:
- Mengirimkan ratusan pelajar Mesir untuk belajar ke Eropa (Perancis, Italia, Inggris, Austria).
- Melakukan inovasi militer dengan mendatangkan perwira Perancis untuk melatih tentara Mesir.
- Inovasi ekonomi dan pertanian dengan memperbaiki irigasi, mendatangkan ahli dari Eropa, dan membuka sekolah pertanian.
- Mendirikan sekolah modern seperti Sekolah Militer, Teknik, Kedokteran, dan Apoteker.
- Memasukkan ilmu modern ke dalam kurikulum pendidikan (bahasa, sosial, alam, matematika, dan keterampilan).
2. Rifa’ah Baidawi Rafi’at at-Tahtawi (1801 – 1873 M)
Dikenal dengan panggilan At-Tahtawi, ia berhasil menerjemahkan sekitar 20 buku berbahasa Perancis. Pokok pemikirannya:
- Pendidikan: Harus bersifat universal dan mendukung emansipasi wanita.
- Ekonomi: Perbaikan pertanian, jalan, jembatan, dan alat komunikasi.
- Kesejahteraan: Dapat tercapai dengan berpegang teguh pada agama Islam dan berbudi pekerti baik.
- Pemerintahan: Harus dijalankan dengan adil berdasarkan undang-undang.
- Patriotisme: Menekankan cinta tanah air.
- Ijtihad: Harus dilakukan oleh ulama yang memenuhi syarat.
- Sains: Sains modern dan pemikiran rasional tidak bertentangan dengan syariat Islam.
3. Jamaludin Al-Afghani (1838 – 1897 M)
Pemimpin pembaharuan Islam yang berpindah-pindah negara. Pokok pemikirannya:
- Penyebab kemunduran Islam adalah akhlak buruk, acuh terhadap ilmu pengetahuan, dan kelemahan umat di segala sektor.
- Menggagas ide Pan-Islamisme, yaitu paham untuk mempersatukan seluruh umat Islam di dunia.
- Menekankan kedudukan yang sama antara laki-laki dan perempuan.
- Berusaha mengubah sistem pemerintahan autokrasi menjadi demokrasi.
4. Muhammad Abduh (1849 – 1905 M)
Mufti pertama di Mesir yang memiliki ide pokok:
- Pendidikan: Melakukan lintas disiplin ilmu antara kurikulum madrasah dan sekolah untuk menghilangkan dikotomi antara ulama dan ilmuwan modern.
- Ijtihad: Pintu ijtihad masih terbuka lebar bagi umat Islam.
- Rasionalitas: Islam adalah ajaran rasional yang sejalan dengan akal.
- Negara: Kekuasaan negara harus dibatasi oleh konstitusi.
5. Rasyid Ridha (1865 – 1935 M)
Penerbit majalah al-Manar yang bertujuan memajukan umat Islam. Pokok pemikirannya:
- Umat Islam harus mengejar ketertinggalan dari bangsa Eropa.
- Kemunduran disebabkan merebaknya paham fatalisme (pasrah tanpa usaha).
- Ilmu pengetahuan modern tidak bertentangan dengan agama Islam.
- Hukum fiqih kemasyarakatan tidak boleh dianggap absolut.
- Mewujudkan persatuan dan kesatuan umat Islam.
6. Muhammad Iqbal (1877 – 1938 M)
Presiden Liga Muslim tahun 1930 yang memiliki pemikiran:
- Mencita-citakan perpaduan antara peradaban Barat dan Timur.
- Al-Qur’an lebih mengutamakan amal daripada sekadar cita-cita.
- Ijtihad adalah dasar pergerakan dalam Islam.
- Umat Islam harus memiliki pola pikir kritis dan kreatif.
- Pendidikan bertujuan memperkokoh individualitas peserta didik.
7. KH. Ahmad Dahlan (1868 – 1923 M)
Pendiri organisasi Muhammadiyah (18 November 1912). Pokok pemikirannya:
- Pendidikan bertujuan membentuk manusia berbudi luhur, alim dalam agama, dan berpandangan luas.
- Pendidikan harus mencetak manusia yang berjiwa nasionalisme.
- Memadukan model pendidikan pesantren dan sekolah umum.
- Menata amal usaha pendidikan di bawah organisasi, bukan milik pribadi.
8. KH. Hasyim Asy’ari (1871 – 1947 M)
Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan Pondok Pesantren Tebuireng. Pokok pemikirannya:
- Tasawuf: Bertujuan memperbaiki perilaku umat sesuai prinsip Islam (dipengaruhi Al-Ghazali).
- Perlawanan: Menginisiasi Resolusi Jihad melawan penjajah.
- Politik: Membangun dan menjaga persatuan umat Islam.
- Pendidikan: Fokus pada pemahaman pengetahuan dan pembentukan karakter baik.
C. Pengaruh Islam Masa Modern bagi Indonesia
Gerakan pembaruan Islam masa modern memberikan inspirasi besar bagi Indonesia:
- Inspirasi Kemerdekaan: Gagasan Pan-Islamisme menjadi cikal bakal gerakan kesatuan untuk menentang penjajah di Nusantara.
- Organisasi Masyarakat: Berdirinya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang sangat berpengaruh hingga sekarang di Indonesia dan dunia.
- Pendidikan: Berdirinya perguruan tinggi Islam yang membuka jurusan keagamaan sekaligus jurusan umum secara terintegrasi.
D. Hikmah Belajar Peradaban Islam pada Masa Modern
- Memahami bahwa penguasaan IPTEK harus dilandasi agama yang kokoh demi kemajuan umat.
- Menjadikan Al-Qur’an, hadis, dan ijtihad ulama sebagai fondasi untuk membangun peradaban umat.
- Mengkaji ilmu keislaman secara komprehensif sebagai fondasi pemahaman agama.
- Mengetahui kelebihan dan kelemahan masa lalu sebagai bahan introspeksi (belajar dari sejarah).
- Berpikir dinamis mengikuti perkembangan zaman demi masa depan.
- Memperkuat semangat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam).
- Membangun semangat berkarya, kreatif, dan inovatif untuk perubahan yang lebih baik melalui kebijakan maupun tulisan.
Selamat! Jika kamu merasa sudah memahami seluruh materi yang telah disampaikan, sekarang saatnya untuk menguji sejauh mana pemahamanmu melalui sesi evaluasi. Klik tombol di bawah ini untuk mulai mengerjakan kuis; jangan terburu-buru, baca setiap pertanyaan dengan teliti, dan berikan jawaban terbaikmu. Selamat mengerjakan!
🚀 MULAI KERJAKAN EVALUASI