Kelas 11 BAB 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

Daftar Isi

Memenuhi Janji

Padanan kata janji dalam bahasa Arab adalah aqad. Menurut bahasa, akad berarti perjanjian atau ikatan yang kuat. Memenuhi janji merupakan kewajiban dan menjadi tanda apakah seseorang itu beriman atau tidak. Memenuhi janji hukumnya adalah wajib.

Dalil Al-Qur'an: Q.S. al-Isrā’/17: 34

 

Artinya:
“…. dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggung–jawabannya.” (Q.S. al-Isrā’/17: 34).

Selain ayat tersebut, terdapat dua ayat lainnya yang terkait dengan memenuhi janji, yaitu Q.S. al-Maidah/5: 1 dan Q.S. an-Nisa/4: 32.

Macam-macam Janji:

  • Janji kepada Allah Swt.: Janji ini telah dilakukan setiap manusia sejak masih dalam rahim ibunya. Bentuk janjinya adalah akan mengimani Allah sebagai Rabb-Nya dan berjanji menjadi hamba-Nya yang taat ketika sudah di dunia. Hal ini tertuang dalam Q.S. al-A’rāf/7: 172.
  •  
  • Artinya:
  • “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
  • Janji kepada sesama manusia: Janji-janji yang dibuat dan disepakati, baik sebagai pribadi maupun dengan lembaga atau pihak lain (seperti perdagangan, perniagaan, pernikahan, dan sebagainya). Janji ini harus ditunaikan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Hadis Rasulullah Saw. terkait Janji:

Latin:
"Kullu syarṭin laisa fī kitābillāhi fahuwa bāṭilun, wa in kāna mi’ata syarṭin."

Artinya:
“Setiap syarat (ikatan janji) yang tidak sesuai dengan Kitabullah, menjadi batil, meskipun seratus macam syarat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Manfaat Menunaikan Janji:

  • Mendapatkan predikat sebagai muttaqin dan menjadi sebab tergapainya sifat muttaqin.
  • Menjadi sebab datangnya keberhasilan, keamanan, dan ketenteraman, serta menjauhkan konflik dan perselisihan.
  • Menghindari pertumpahan darah dan terjaga dari mengambil hak orang lain (baik dari pihak muslim maupun non-muslim).
  • Dapat menghapus kesalahan dan menjadi sebab dimasukkan ke dalam surga.

Mensyukuri Nikmat

Terdapat dua kata dasar yang digunakan, yaitu syukur dan nikmat. Syukur merupakan bentuk keridhaan atau pengakuan terhadap rahmat Allah Swt. dengan setulus hati. Nikmat menurut bahasa adalah pemberian, anugerah, kebaikan, dan kesenangan yang diberikan kepada manusia (rezeki, harta, keluarga, dll).

Mensyukuri nikmat adalah berterima kasih kepada Allah Swt. atas segala anugerah dengan cara menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan tujuan nikmat itu diberikan.

Dalil Al-Qur'an: Q.S. Ibrahīm/14: 7

 

Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Q.S. Ibrahīm/14: 7).

Ketentuan Syukur:
Syukur harus dilakukan dengan tiga hal, yaitu melalui lisan, hati, dan anggota badan. Imam al-Ghazali membagi syukur menjadi tiga bagian: ilmu, hal (keadaan), dan amal (perbuatan).

Manfaat Mensyukuri Nikmat:

  • Menjadi jauh lebih produktif.
  • Merasa lebih bahagia dan optimis.
  • Manfaatnya akan kembali ke diri sendiri.

Memelihara Lisan

Lidah yang kita gunakan untuk berbiacara bisa membawa manfaat ataupun keburukan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Penggunaan lidah telah ditegaskan oleh Allah Swt. dalam beberapa ayat.

Dalil Al-Qur'an:

  • Q.S. an-Nūr/24: 24
  • Artinya:
  • “Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
  • Q.S. Yāsīn/36: 65
  •  
  • Artinya:
  • “Pada hari ini, Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Hadis Menjaga Lisan:

Latin:
"Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhiri falyaqul khairan au liyaṣmut."

Artinya:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah berbicara yang baik, atau (jika tidak mampu) maka diamlah.” (HR. al-Bukhāri).

Pentingnya Menjaga Lisan:
Kita harus menjaga lisan agar terhindar dari:

  • Fitnah: Dalam Al-Qur'an maknanya luas (cobaan, ujian, siksa).
  • Buhtan: Sebutan untuk fitnah dalam bahasa Indonesia (berita bohong/tuduhan).
  • Ghibah: Membicarakan keburukan orang lain yang tidak hadir.

Petunjuk Islam dalam Penggunaan Lisan:

  • Menjauhi kebiasaan berkata bohong dan hal yang tidak bermanfaat.
  • Menjauhi pembicaraan yang batil, kotor, dan jorok.
  • Tidak berbicara dusta atau palsu.
  • Tidak menggunakan lisan untuk menggunjing atau mengadu domba.
  • Tidak berkata kasar dan tidak mudah marah.
  • Menjawab panggilan orang tua dengan sopan dan santun.

Menutupi Aib Orang Lain

Aib adalah cela, cacat, nista, noda, atau perilaku hina yang bersifat rahasia.

Jenis-jenis Aib:

  1. Aib Dzahir: Aib yang nampak dan dapat diketahui secara lahir jika diperhatikan.
  2. Aib Tersembunyi: Aib yang tidak nampak karena disembunyikan.

Di era modern, teknologi dan media sosial sering disalahgunakan untuk mengumbar aib orang lain. Sebagai umat muslim, kita dilarang mencari-cari kesalahan orang lain agar tidak ada celah bagi orang lain untuk mengumbar aib kita.

Dalil Al-Qur'an: Q.S. al-Hujurā t/49 : 12

 

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.” (Q.S. al-Hujurā t/49 : 12).

Hadis Menutupi Aib:

Latin:
"Man satara musliman satarahullāhu fid-dunyā wal-ākhirah."

Artinya:
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw. bersabda: "Barang siapa menutupi aib saudaranya di dunia, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).