Kelas 11 BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

Daftar Isi

Dakwah

Dakwah berasal dari kata da’a yang mempunyai arti mengajak, memanggil, dan menyeru untuk hal tertentu. Orang yang melakukan pekerjaan dakwah disebut dai (laki-laki) dan daiyah (perempuan).

Definisi Dakwah secara istilah:

  • Setiap kegiatan yang mengajak, menyeru, dan memanggil orang atau kelompok orang untuk beriman kepada Allah Swt. sesuai dengan ajaran akidah (keimanan), syariah (hukum) dan akhlak Islam.
  • Kegiatan mengajak orang lain ke jalan Allah Swt. secara lisan atau perbuatan untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari supaya mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
  • Kegiatan mengajak orang-orang untuk mengamalkan ajaran Islam di dalam kehidupan sehari-hari.
  • Seruan atau ajakan kepada keinsafan atau usaha untuk mengubah agar keadaannya lebih baik lagi, baik sebagai pribadi maupun masyarakat.

Jadi kesimpulannya, dakwah adalah mengajak orang lain untuk meyakini kebenaran ajaran Islam dan mengamalkan syariat Islam, agar tercapai pola hidupnya lebih baik, sehingga tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalil Al-Qur'an: Q.S. Ali ‘Imrān/3: 104

 

Artinya:
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali ‘Imrān/3: 104).

Adab atau Etika Dakwah:

  • Dakwah dengan cara hikmah: ucapan yang jelas, tegas, dan sikap yang bijaksana.
  • Dakwah menggunakan cara mauidzatul hasanah: nasihat yang baik, persuasif (damai tanpa kekerasan), dan edukatif (memberikan pengajaran/i’tibar).
  • Dakwah dengan cara mujadalah: diskusi atau tukar pikiran yang dinamis, santun, dan menghargai pendapat orang lain.
  • Dakwah melalui teladan yang baik (uswatun hasanah).

Tujuan Dakwah (merujuk Q.S. an-Nūr/24: 55):

  • Beriman hanya kepada Allah Swt. dan tidak melakukan kemusyrikan (tauhid/akidah).
  • Menjadikan seluruh aktivitasnya hanya beribadah kepada Allah Swt. (ikhlas/syariah).
  • Mengerjakan amal shaleh dalam arti yang seluas-luasnya (amal ibadah/muamalah).
  • Berakhlak mulia yang tolok ukurnya adalah akhlak Rasulullah Saw. (akhlak/ihsan).

Metode Dakwah (merujuk Q.S. al-Nahl/16: 125):

  • Meluruskan niat hanya untuk mencari ridha Allah Swt.
  • Dakwah harus bijak (hikmah) dan mengetahui kondisi objek dakwah.
  • Hindari cara memaksa/teror, kedepankan mau’idhah hasanah.
  • Melakukan mujadalah (dialog/diskusi) dengan cara yang beradab dan etika yang baik.

Strategi dan Ciri Dakwah:

  • Seorang dai harus menyatukan kata dengan perbuatan, memahami objek dakwah, berani, sabar, dan selalu berdoa.
  • Menggunakan media modern: sosial media, TV, radio, internet, buku, dll.
  • Mengikuti ajaran Rasulullah: Lemah lembut, bermusyawarah, sabar, dan tawakal.

Khutbah

Khutbah berasal dari kata mukhathabah (pembicaraan) atau al-khatbu (perkara besar). Secara istilah, khutbah adalah menyampaikan pesan takwa atau nasihat ibadah dengan syarat dan rukun tertentu.

Pembagian Khutbah berdasarkan ibadah:

  1. Sebelum shalat: Khutbah Jum’at.
  2. Sesudah shalat: Khutbah Shalat ’Idain (Idul Fitri dan Idul Adha).
  3. Tidak berkaitan dengan shalat: Khutbah Nikah.

Ketentuan Khutbah Jum'at:

  • Syarat Khatib: Islam, balig, berakal sehat, mengetahui aturan khutbah, suci dari hadas, fasih membaca Al-Qur'an, berakhlak baik, suara jelas, dan berpakaian rapi.
  • Syarat Dua Khutbah: Dilaksanakan masuk waktu Dhuhur, berdiri (jika mampu), duduk di antara dua khutbah, suara terdengar jamaah, dan tertib.
  • Rukun Khutbah:
    1. Membaca Hamdalah.
    2. Membaca Shalawat Nabi.
    3. Berwasiat taqwa.
    4. Membaca ayat Al-Qur'an.
    5. Berdoa untuk kaum muslimin pada khutbah kedua.
  • Sunnah Khutbah: Mengucapkan salam, di atas mimbar, kalimat jelas/aktual, khutbah diperpendek (shalat diperpanjang), membaca Q.S. al-Ikhlas saat duduk di antara dua khutbah.

Adab Shalat Jum'at: Berangkat lebih awal, mengisi shaf depan, shalat Tahiyatul Masjid, memperbanyak dzikir/shalawat sebelum khutbah, dan mendengarkan khutbah dengan seksama.


Tablig

Tablig berasal dari kata ballagha yang artinya menyampaikan pesan secara lisan. Pelakunya disebut mubalig (laki-laki) atau mubaligah (perempuan).

Dalil Al-Qur'an: Q.S. al-Ahzā b/33 : 39

 

Artinya:
“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah (para rasul yang menyampaikan syariat-syariat Allah kepada manusia), mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.” (Q.S. al-Ahzā b/33 : 39).

Ketentuan Melaksanakan Tablig:

  • Sopan, lemah lembut, dan tidak kasar.
  • Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.
  • Mengedepankan musyawarah dan diskusi.
  • Materi harus memiliki rujukan yang kuat dan jelas.
  • Ikhlas, sabar, dan sesuai kondisi jamaah.
  • Tidak menghasut atau mencari kesalahan orang lain.

Tata Cara Bertablig:

  • Mengajak orang terdekat dahulu, baru masyarakat luas.
  • Dekati pihak lain sesuai kapasitas ilmu dan martabatnya.
  • Saling membantu agar tablig terlaksana bertahap dan berkesinambungan menjangkau semua lapisan masyarakat.