Kelas 11 BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

Daftar Isi

Umat Islam di Indonesia

  • Populasi: Berdasarkan data yang dipublikasikan Kementerian Agama Republik Indonesia, populasi muslim di Indonesia diperkirakan sebanyak 229 juta jiwa atau 87,2% dari total penduduk Indonesia.
  • Perkembangan Awal: Pada awalnya, Islam berkembang di Samudera Pasai, lalu ke Semenanjung Malaya dan Aceh, dan terus menyebar hingga Sumatra, Jawa, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.

Peran Ulama di Indonesia

Materi ini mempelajari peran beberapa ulama Indonesia yang mengajarkan Islam kepada masyarakat, antara lain:

  1. Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani
  2. Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari
  3. Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani
  4. Nuruddin bin Ali ar-Raniri
  5. Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili
  6. Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani
  7. Hamzah al-Fansuri

Profil Tokoh Ulama di Indonesia

a. Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani

  • Biografi: Dilahirkan pada 1813 M di Tanara, Serang, Banten. Ayahnya bernama Syekh Umar bin Arabi al-Bantani. Beliau dikenal dengan nama Syekh Nawawi.
  • Kiprah: Pernah menjadi imam di Masjidilharam dan mengajar di sana selama kurang lebih 10 tahun.
  • Karya: Aktif menulis kitab di bidang fikih, tasawuf, tafsir, dan hadis.
  • Karya:
    • Sullam al-Munājah Syarah Safīnah al-Shalāh
    • Marāqi al-‘Ubūdiyyah syarah Matan Bidāyah al-Hidāyah
    • Qāmi’ al-Thugyān syarah Mandhūmah Syu’bu al-Imān dan masih banyak lagi.

b. Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari

  • Biografi: Lahir pada 3 Juli 1626 M di Gowa, Sulawesi Selatan. Putra dari Abdullah dan Aminah. Nama Syekh Yusuf diberikan oleh Sultan Alauddin (Raja Gowa).
  • Gelar: Tuanta Salamaka ri Gowa (tuan guru penyelamat dari Gowa).
  • Kiprah: Pindah ke Banten saat Gowa kalah perang dari Belanda. Mendidik anak-anak penguasa Banten sehingga Banten menjadi pusat pendidikan Islam. Didaulat sebagai ulama tasawuf dan tarekat oleh Sultan Ageng Tirtayasa.
  • Karya:
    • Zubdād al-Asrār fī Tahqīq Ba’d Masyārib al-Akhyār
    • Tāj al-Asrar fī Tahqīq Masyrab Al ‘Ārifīn min Ahl al-Istibshār
    • Mathālib as-Sālikīn
    • Fath Kaifiah az-Dzikr
    • Safīnat an-Najah

c. Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani

  • Biografi: Lahir tahun 1704 M dan wafat tahun 1789 M (usia 85 tahun). Ayahnya Syekh Abdul Jalil (ulama Yaman) dan ibunya Radin Ranti (wanita Palembang).
  • Pendidikan Masa Kecil: Belajar ilmu tasawuf dari Syekh Abdur Rahman bin Abdul Aziz al-Magribi, ilmu suluk dari Syekh Muhammad as-Samman, dan ilmu tauhid dari tulisan Syekh Mustafa al-Bakri.
  • Karya:
    • Zahratul Murīd f Bayāni Kalimah al-Tauhīd (1178 H/1764 M)
    • Hidāyatus Sālikīn fī Sulūki Maslakil Muttaqīn (1192 H/1778 M)
    • Siyārus Sālikīn ilā ‘Ibādati Rabbil ‘Alamīn (1194 H/1780 M - 1203 H/1788 M)
    • Al-‘Urwatul Wutsqā wa Silsilatu Waliyil Atqā
    • Ratib Sheikh ‘Abdus Shamad al-Falimbani
    • Nashīhatul Muslimīna wa Tazkiratul Mu’minīna f Fadhāilil Jihādi wa Karāmatil Mujtahidīna fī Sabīlillah

dNuruddin bin Ali ar-Raniri

  • Biografi: Nama lengkap Syekh Nuruddin Muhammad bin ‘Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi. Lahir abad ke-16 di Gujarat, India. Wafat 21 September 1658 M.
  • Kiprah: Datang ke Aceh tahun 1637 M. Menjadi penasehat kesultanan Aceh menggantikan Syekh Syamsuddin as-Sumatrani. Menjabat sebagai Kadi Malik al-Adil, Mufti besar, dan Syekh di Masjid Bait al-Rahman.
  • Karya:
    • Al-Shirāth al-Mustaqīm
    • Durrat al-Farāid bi syarh al-‘Aqāid an-Nasafiah
    • Hidāyat al-Hābib f al Targhib wa’l-Tarhib
    • Bustanus al-Shalathin fī Dzikr al-Awwālin wa al-Ākhirīn
    • Nubdzah f Da’wah al-Dzill ma’a Shāhibihi

e. Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili

  • Biografi: Nama lengkap Aminuddin Abdurauf bin Ali al-Jawi Tsumal Fansuri al-Singkili. Lahir 1615 M dan wafat 1693 M.
  • Gelar: Tengku Syiah Kuala (Syekh ulama di Kuala).
  • Kiprah: Berperan besar menyebarkan Islam di Sumatra. Mendirikan lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi dan mengembangkan Tarekat Syathariah. Murid terkenalnya antara lain Syekh Burhanudin Ulakan dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan.
  • Karya:
    • Mir’at al-Thullāb fī Tasyil Mawā’iz al Badî’rifat al-Ahkām al-Syar’iyyah li Mālikal-Wahhāb
    • Tarjuman al-Mustafī
    • Terjemahan Hadits Arba’in karya Imam al-Nawawi
    • Mawā’iz al-Badī’
    • Tanbīh al-Masyi
    • Kifāyat al-Muhtajin ilā Masyrah al Muwahhidīn al-Qāilīn bi Wahdatil Wujūd
    • Daqāiq al-Hurf

f. Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani (Mbah Sholeh Darat)

  • Biografi: Lahir di Jepara tahun 1820 dan wafat Desember 1903.
  • Kiprah: Menuntut ilmu ke berbagai tempat di Jawa (termasuk belajar fikih di pesantren Kiai M. Syahid, Pati). Pernah mengajar di Mekah, kemudian mendirikan pesantren di Semarang dan giat berdakwah.
  • Karya:
    • Kitab Munjiyat
    • Syarh Kitab al-Hikam
    • Latha’if at-Thaharah
    • Kitab ash-Shalah
    • Tarjamah Sabil al-Abid ala Jauharah at-Tauhid

g. Hamzah al-Fansuri

  • Biografi: Berasal dari Barus, Sumatra Utara. Lahir masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayatsyah IV (1589-1604). Nama al-Fansuri berasal dari kata "Pancur" (kota kecil di pantai barat Sumatra antara Singkil dan Sibolga).
  • Pemikiran: Terkenal sebagai penganut wahdatul wujud. Memandang Tuhan sebagai iman dalam segala hal. Pandangannya disebarkan oleh Samsudin al-Sumatrani.
  • Karya Kelompok Puisi:
    • Syair "Burung Unggas"
    • Syair "Dagang"
    • Syair "Perahu"
    • Syair "Si Burung Pipit"
    • Syair "Si Burung Pungguk"
    • Syair "Sidang Fakir"
  • Karya Kelompok Prosa:
    • Asrār al-Ārifīn
    • Sharab Āsyikīn
    • Kitab al-Muntahi/Zinat al-Muwahidīn

Peneladanan Tokoh Ulama Indonesia

Sikap yang dapat diteladani dari para ulama:

  1. Berperilaku santun dalam menyebarkan ajaran Islam: Santun adalah berbudi pekerti yang baik. Sampaikan ajaran Islam kepada keluarga dan masyarakat dengan santun.
  2. Tidak ada paksaan dalam berdakwah: Sesuai Q.S. al-Baqarah [2]: 256 yang menyatakan tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam karena jalan yang benar sudah jelas bedanya dengan jalan yang sesat.
  3. Menjaga kerukunan dan ukhuwah islamiah: Dalam menyebarkan agama, ulama senantiasa menjaga kerukunan. Sebagai muslim yang baik, kita sebaiknya meneladan prinsip tersebut.