Kelas 11 BAB 7: Menguatkan Iman dengan Menjaga Kehormatan, Ikhlas, Malu, dan Zuhud

Table of Contents

Menjaga Kehormatan

Di era digital seperti sekarang, menjaga kehormatan diri menjadi tantangan tersendiri. Menjaga kehormatan merupakan salah satu cabang iman yang sangat penting. Dengan menjaga kehormatan, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga menghormati orang lain dan nilai-nilai luhur agama.

Maksud dari menjaga kehormatan adalah menjaga harga diri, nama baik, dan kemuliaan diri. Dengan kata lain menjaga harkat, martabat dan harga diri manusia. Menjaga kehormatan dalam bahasa Arab disebut dengan muru’ah.

Muru’ah adalah proses penjagaan tingkah laku seseorang agar sejalan dengan ajaran agama, menghiasi diri dengan akhlak terpuji dan menjauhi segala bentuk keburukan. Selain muru’ah juga disebut dengan istilah ‘iffah. Secara bahasa, istilah ‘iffah berarti mencegah dari sesuatu yang tidak bermanfaat atau menjauhi hal yang buruk dan terlarang. Secara istilah berarti sifat yang menjadikan seseorang dapat menghindar dari menuruti hawa nafsunya.

 

 

Dalil Al-Qur'an: Q.S. Al-Ahzab/33: 35

 

 

Artinya:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

Sikap Muru’ah dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

  • Muru’ah terhadap diri sendiri;
  • Muru’ah terhadap sesama makhluk;
  • Muru’ah terhadap Allah Swt.

Adapun contoh muru’ah dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya:

  • Menjaga perkataan dengan tidak mengejek teman ataupun berkata kasar.
  • Menggunakan pakaian yang mencerminkan syariat Islam bukan menggunakan pakaian yang menampakkan lekuk tubuh.
  • Menjauhi pergaulan bebas dan zina.
  • Menjauhi makan dan minuman yang haram.
  • Mempergunakan harta di jalan yang baik.
  • Tidak menyalahgunakan jabatan yang dimiliki.

 

Ikhlas

Tahukah kamu bahwa kunci meraih kebahagiaan sejati ialah dengan ikhlas? Ikhlas tidak hanya membuat hati kita tenang, tetapi juga mendekatkan kita kepada Allah Swt.

Kata ikhlas dari bahasa Arab. Secara bahasa kata ikhlas berarti murni, tidak bercampur, bersih, jernih, mengosongkan dan membersihkan sesuatu. Ikhlas berarti suci dalam berniat, bersihnya batin dalam beramal, tidak ada pura-pura, lurusnya hati dalam bertindak, jauh dari penyakit riya’ serta mengharap ridha Allah semata. Kaitannya ibadah, secara bahasa ikhlas berarti tidak memperlihatkan amal kepada orang lain.

Dengan kata lain ikhlas adalah sikap yang dilakukan seseorang dalam melaksanakan perintah-perintah Allah Swt dan tidak mengharap sesuatu apapun, kecuali ridha Allah Swt. Ikhlas merupakan sesuatu hal yang sifatnya batin dan ia merupakan perasaan halus yang tidak dapat diketahui oleh siapapun kecuali pelakunya dan Allah Swt.

 

Dalil Al-Qur'an: Q.S. Az-Zumar/39: 2

 

Artinya:
“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”.

 

Tingkatan Ikhlas menurut Ali Abdul Halim (2010):

  • Orang awam (umum): Seseorang beribadah kepada Allah Swt, tujuannya mencari dan menghitung keuntungan dunia dan akhirat.
  • Orang khawash (khusus): Seseorang beribadah hanya untuk mencari keuntungan akhirat bukan lagi berorientasi pada keuntungan dunia.
  • Orang khawashul khawas (excellent): Ketika seseorang masuk dalam tingkatan ini, apabila ia beribadah tidak ada motivasi apa pun, kecuali mengharap ridha dari Allah Swt.

Ciri-ciri seseorang yang ikhlas menurut Imam Dzun Nun:

  • Tidak lagi mengharap/menghiraukan pujian dan hinaan orang lain.
  • Tidak lagi melihat kepada manfaat dan bahaya perbuatan, tetapi pada hakikat perbuatan, misalnya bahwa amal yang kita lakukan adalah perintah Allah.
  • Tidak mengingat pahala dari perbuatan yang dilakukan.

 

Malu

Sejak zaman Rasulullah Saw, sifat malu selalu diajarkan sebagai salah satu sifat terpuji. Para sahabat Nabi dikenal sebagai pribadi-pribadi yang sangat menjaga kehormatan diri dan malu terhadap Allah Swt.

Malu dalam bahasa Arab disebut kata al-haya’. Malu disebutkan oleh Nabi Saw sebagai cabang dari iman karena dengan sifat malu seseorang dapat tergerak melakukan kebaikan dan menghindari keburukan. Sifat malu akan selalu mengantarkan seseorang pada kebaikan.

Malu dibagi menjadi dua menurut Ibnu Hajar:

  • Malu naluri (gharizah): Sifat malu yang Allah ciptakan pada diri hamba sehingga mengantarkan hamba tersebut melakukan kebaikan dan menghindari keburukan.
  • Malu yang dicari/dilatih (muktasab): Adakalanya bagian dari iman (seperti malu di hadapan Allah pada hari kiamat), adakalanya bagian dari ihsan (merasa selalu dalam pengawasan Allah).

Hadis tentang Malu (HR. Al-Tirmidzī):

Artinya:
“Dari Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah saw bersabda: “Malulah pada Allah dengan sebenarnya.” Berkata Ibnu Mas’ud: Kami berkata: Wahai Rasulullah, kami malu, alhamdulillah. Beliau bersabda: “Bukan itu, tetapi malu kepada Allah dengan sebenarnya adalah kau menjaga kepala dan apa yang dipahami dan perut beserta isinya, mengingat kematian dan segala kemusnahan, barangsiapa menginginkan akhirat, ia meninggalkan perhiasan dunia, barangsiapa melakukannya, ia malu kepada Allah dengan sebenarnya.”

Maksud dari hadis tersebut adalah menjaga seluruh anggota badan dari perbuatan yang dilarang oleh ajaran agama Islam. Malu adalah perhiasan bagi orang beriman.

 

Zuhud

Zuhud secara bahasa berarti sesuatu yang sedikit, tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zuhud berarti meninggalkan dari kesenangan dunia untuk lebih mementingkan ibadah. Dalam kaitannya dunia, zuhud diartikan meninggalkan dunia dan menganggap dunia adalah hal yang hina.

Perilaku zuhud bukan berarti tidak memperhatikan urusan duniawi atau mengasingkan diri dari dunia. Para ulama menjelaskan bahwa hal tersebut bukanlah maksud dari zuhud.

  • Menurut Abu Sulaiman ad-Darani, zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang dapat menyibukkan diri kita sehingga melalaikan Allah.
  • Menurut Abu Said bin al-A’rabi dari para gurunya, zuhud adalah mengeluarkan kemuliaan harta dari dalam hati kita, maksudnya harta yang dimiliki tidak menjadikan hati ini jauh dan lalai dari Allah.
  • Raghib al-Ishfahani menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan usaha untuk menghasilkan sesuatu, seperti yang banyak disalahpahami orang, karena yang seperti itu mengantarkan pada kerusakan alam dan bertentangan dengan takdir dan peraturan Allah. Menurutnya, orang yang zuhud terhadap dunia adalah orang yang cinta kepada akhirat, sehingga ia menjadikan dunia untuk akhirat. Sehingga harta yang dimiliki dapat mengantarkan kebahagiaan dan manfaat baginya di akhirat.

Anjuran zuhud dalam bertasawuf dilatarbelakangi oleh keyakinan kalangan sufi bahwa manusia cenderung terlalu menikmati hal-hal yang bersifat keduniaan yang mubah. Sehingga akhirnya dapat menyebabkan manusia terjerumus ke sikap berlebihan sebagaimana penjelasan sebelumnya.

Dalam Islam, cinta dunia bukan berarti meninggalkan harta duniawi. Imam Ghazali dalam Kitab Ihya’ ‘Ulumudin menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan harta duniawi. Perilaku zuhud adalah seseorang mampu mendapatkan/menikmati dunia tanpa menjadikan dirinya hina, tanpa menjadikan nama baiknya buruk, tanpa mengalahkan kebutuhan rohani dan tanpa menjadikannya jauh dari Allah.

Dengan demikian, zuhud bukan dilihat dari pakaian atau harta apa yang dimiliki seseorang, tetapi terkait cara memperoleh harta dunia dan menyikapi harta tersebut sesuai tuntunan agama, seperti mencari harta secara halal, harta yang dimiliki tidak menjadikan seseorang sombong dan jauh dari Allah.

Zuhud bukan berarti menjauhkan diri dari dunia, melainkan lebih kepada pengaturan hati agar tidak terlalu terikat pada duniawi. Dengan hidup zuhud, kita akan lebih fokus pada ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

 

Posting Komentar