Kelas 12 Bab 5: Perkembangan Peradaban Islam di Dunia
Secara
filosofis, masyarakat Indonesia mengenal istilah peradaban sebagai kemajuan
yang berhubungan dengan sopan santun dan kebudayaan. Namun, dalam sejarah
Islam, peradaban disebut sebagai hadharah (kemajuan) sebagai lawan dari
kata badawah (kondisi asli/primitif). Di dalam setiap hadharah
berlangsung proses yang disebut tamaddun (pembentukan masyarakat maju)
yang menghasilkan tsaqafah—yaitu alam pikir atau pandangan hidup yang
maju dan mahir. Dengan demikian, peradaban Islam adalah kumpulan kemajuan
identitas umat Islam dalam aspek sosial, politik, ekonomi, hingga sains dan
teknologi, baik yang berbentuk fisik seperti bangunan dan bendungan, maupun
non-fisik seperti nilai-nilai dan tatanan budaya.
Peradaban Islam di Benua Asia
Agama
Islam lahir pada abad ke-7 M di wilayah Asia Barat, tepatnya di kota suci
Mekah, Arab Saudi. Dari sana, Islam menyebar luas ke berbagai wilayah di benua
Asia, meliputi Asia Barat, Asia Tengah, Kaukasus, Asia Selatan, Asia Timur,
hingga Asia Tenggara. Berdasarkan data sejarah, negara-negara dengan mayoritas
penduduk Muslim di Asia meliputi Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam,
Pakistan, Bangladesh, hingga wilayah Uighur di China dan negara-negara pecahan
Uni Soviet di Asia Tengah.
Salah
satu negara di Asia Selatan yang memiliki peran sangat penting adalah Pakistan
(Republik Islam Pakistan). Berbatasan dengan Iran, Afganistan, dan India,
negara ini memiliki penduduk Muslim sebanyak 97%. Pakistan berjasa besar dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan dan filsafat, serta berhasil melahirkan lembaga
intelektual Muslim bertaraf internasional seperti Pakistan Philosophical
Congress dan International Iqbal Forum. Budaya keilmuan yang kuat di
Pakistan telah melahirkan sejumlah ilmuwan Muslim terkemuka, di antaranya:
- Muhammad Iqbal (1873-1938):
Penyair, filsuf, dan tokoh pembaharu pemikiran Islam yang pernah menempuh
studi di Cambridge dan Jerman.
- Abu A’lã al-Maududi (1903-1979):
Tokoh pemikir yang sangat berpengaruh dalam gerakan Islam modern.
- M. M. Syarif (1893-1965):
Editor buku legendaris History of Muslim Philosophy.
- C.A. Qadir:
Penulis buku Philosophy and Science in The Islamic World.
- Dr. Abdus Salam (1926):
Ilmuwan fisika penerima hadiah Nobel pada tahun 1979.
- Fazlur Rahman:
Guru besar ilmu agama Islam di Universitas Chicago.
Peradaban Islam di Benua Eropa
Islam
memasuki benua Eropa berdasarkan realitas sejarah melalui empat periode utama
yang panjang dan dinamis:
- Masa kekhalifahan Islam di Spanyol
(Andalusia) selama kurang lebih 8 abad, termasuk pemerintahan di Perancis
Selatan, Sicilia, dan Italia Selatan.
- Masa penyebaran tentara Mongol pada abad
ke-13 yang meninggalkan jejak di wilayah sekitar Sungai Volga hingga
Kaukasus.
- Masa ekspansi kekhalifahan Turki Usmani
sekitar abad ke-14 dan ke-15 ke wilayah Balkan dan Eropa Tengah.
- Masa kaum imigran Muslim pasca Perang
Dunia ke-2 ke negara-negara industri seperti Perancis, Jerman, Inggris,
Belanda, dan Belgia.
1.
Peradaban Islam di Spanyol
Kekhalifahan Islam di Spanyol berakhir pada tahun 1492 M setelah
jatuhnya benteng terakhir di Granada. Namun, pada masa modern, keberadaan umat
Islam kembali diakui. Pada tahun 1992, terdapat kesepakatan bersejarah antara
pemerintah Spanyol dan Comission Islamica Espana (Komisi Islam Spanyol)
yang menjamin hak-hak umat Muslim, yaitu:
- Izin pengajaran agama Islam di sekolah
negeri maupun swasta.
- Izin membangun sekolah yang dikelola
secara mandiri oleh komunitas Muslim.
- Pemberian fasilitas ibadah di angkatan
bersenjata, rumah sakit, dan penjara.
- Keringanan pajak dan fasilitas untuk
memperoleh makanan halal serta merayakan hari raya keagamaan.
2.
Peradaban Islam di Perancis
Perancis memiliki jumlah penduduk Muslim mencapai ±7% dari total
populasi, mayoritas berasal dari Aljazair, Maroko, dan Tunisia. Dinamika Islam
di Perancis ditandai dengan:
- Berdirinya organisasi besar seperti Federation
Nationale des Musulmans de France (FNMF) dan Conceil Relegieux de
Islam en France (CORIF).
- Pertumbuhan pesat jumlah masjid, pemukiman
warga Muslim, dan sekolah-sekolah Islam.
- Meningkatnya kesadaran beragama seperti
penggunaan jilbab dan pameran buku-buku Islam.
- Berkembangnya berbagai kelompok tarekat
sufi seperti Qadiriyah, Tijaniah, Naqsyabandiyah, dan Bektasyi yang
memperkaya spiritualitas di sana.
Peradaban Islam di Benua Afrika
Islam
masuk ke Benua Afrika sejak masa Rasulullah SAW melalui peristiwa hijrah 15
sahabat ke Habsyah (Ethiopia). Di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab,
panglima Amr bin Ash berhasil membebaskan Mesir dari penjajahan Romawi. Sejak
itu, Islam menyebar luas ke Afrika Utara melalui proses Islamisasi dan
Arabisasi.
- Mesir: Menjadi pusat
intelektual dunia Islam dengan berdirinya Universitas Al-Azhar di
Kairo yang didirikan oleh Jauhar Al-Khatib As-Saqili pada 972 M.
- Aljazair:
Memiliki Kementerian Agama (Wizarah As-Syu’un Al-Diniyah) yang
sangat aktif mengembangkan studi Islam, membangun 160 sekolah Al-Qur'an,
dan menyelenggarakan seminar pemikiran Islam di berbagai wilayah seperti
Batna dan Al-Jir.
- Tunisia: Memiliki peran
besar melalui lembaga pendidikan Jam’iyah Zaitunah (Institut
Ilmu-ilmu Islam) yang bertugas melatih kader-kader ulama besar secara
profesional.
Peradaban Islam di Benua Australia dan Pasifik
Islam
dibawa ke wilayah Australia dan Pasifik oleh kaum imigran asal Turki, Mesir,
Timur Tengah, dan Balkan pasca Perang Dunia I dan II. Di Australia, kebebasan
beragama dijamin sepenuhnya oleh undang-undang, sehingga tingkat toleransi
antar umat beragama cukup tinggi. Pada tahun 1976, dibentuk organisasi tingkat
nasional bernama Australian Federation of Islamic Council (AFIC) yang
berpusat di Sydney. AFIC menjalankan program strategis seperti:
- Membentuk Islamic Council di setiap
negara bagian untuk mengurus kegiatan umat.
- Menyelenggarakan pernikahan secara Islam
di masjid atau Islamic Center.
- Bekerja sama dengan pemerintah dalam
sertifikasi penyembelihan hewan halal untuk komoditas ekspor.
- Memperjuangkan pengakuan hukum keluarga
Islam (perkawinan, hari libur, dan hari besar) oleh pemerintah.
Peradaban Islam di Benua Amerika
Islam
di benua Amerika mulai berkembang pesat melalui gelombang imigran sejak tahun
1875, terutama dari Suriah, Libanon, dan Yordania. Umat Islam di sana membangun
ribuan masjid dan pusat kegiatan budaya untuk mempertahankan identitas mereka.
Organisasi mahasiswa seperti Muslim Student Association (MSA) yang
berdiri tahun 1963 memiliki peran penting dalam mendirikan organisasi besar
lainnya seperti Islamic Society of North America (ISNA). Di Kanada,
keberadaan Islam juga sangat kuat, ditandai dengan berdirinya Masjid Ar-Rasyid
di Edmonton pada tahun 1931 sebagai salah satu masjid tertua.
Umat
Islam Kulit Hitam (Black Muslims)
Komunitas Muslim kulit hitam di Amerika Serikat memiliki pengaruh sejarah yang
sangat kuat. Pada tahun 1931 M, Wallace Fard Muhammad mendirikan organisasi Nation
of Islam (NOI) di Detroit. Gerakan ini kemudian berkembang pesat di bawah
pimpinan Elijah Muhammad dan melahirkan tokoh legendaris seperti Malcolm X
dan Muhammad Ali. Setelah Elijah wafat, putranya yaitu Warisuddin
Muhammad melakukan reformasi besar-besaran:
- Meluruskan ajaran agar sesuai dengan
Al-Qur'an dan Hadis serta memantapkan dua kalimat syahadat.
- Mengubah nama organisasi menjadi American
Moslem Mission (AMM) untuk menegaskan identitas dakwah nasional.
- Menghapus kebiasaan puasa di bulan
Desember dan menyeragamkannya sesuai bulan Ramadhan.
- Mendorong umat Muslim kulit hitam untuk
aktif berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik negara.
Kesimpulan
Peradaban
Islam memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah panjang umat manusia.
Berdasarkan pemikiran Muhammad Iqbal, kemunduran umat Islam di masa lalu
disebabkan oleh tiga faktor utama: hancurnya Baghdad sebagai pusat intelektual,
munculnya paham fatalisme (pasrah tanpa kerja keras), dan sikap jumud
(statis dalam berpikir).
Posting Komentar