Kelas 12 Bab 6: Cinta Tanah Air dan Moderasi Beragama

Table of Contents

Mengidentifikasi Tajwid Q.S. al-Qasas/28 : 85 dan Q.S. al-Baqarah/2 : 143

  •  
  • a. Q.S. al-Qasas/28 : 85

  •  
  • Artinya: “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: "Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata".
  •  
  • b. Q.S. al-Baqarah/2 : 143

  •  
  • Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”.

 

Memahami Asbabun Nuzul Q.S. al-Qasas/28 : 85 dan Q.S. al-Baqarah/2 : 143

  • a. Asbabun Nuzul Q.S. al-Qasas/28 : 85
    Di dalam kitab Tafsir ash-Shawi dijelaskan, bahwa ketika Rasulullah Saw diarahkan supaya berhijrah ke kota Yatsrib (Madinah), menginap di Gua Hira bersama Abu Bakar Ra. Lalu meneruskan perjalanan dengan melewati jalan yang tak biasa diambah para musafir. Maka sampailah beliau berdua di daerah bernama Juhfah yang terletak di antara Mekkah dan Madinah.
    Pada saat itulah malaikat Jibril as datang menghampiri beliau untuk menyampaikan pesan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw. Pesan itu berupa ayat Q.S. al-Qasas/28: 85, di mana kelak Rasulullah Saw akan diizinkan kembali ke tanah kelahiran beliau di Mekkah. Pesan itu terbukti yaitu tatkala Rasulullah Saw dapat menginjakkan kaki kembali di tanah kelahiran beliau pada waktu peristiwa Fathu Mekkah.
  •  
  • b. Asbabun Nuzul Q.S. al-Baqarah/2 : 143
    Di dalam kitab Mausu’at al-Hafidz Ibn Hajar dijelaskan bahwa asbabun nuzul Q.S. al-Baqarah/2: 143. Berdasarkan keterangan dari Muqatil adalah; bahwa ada sekelompok orang Yahudi di Madinah antara lain Mirhab, Rabi’ah, dan Rai’ yang berpendapat di hadapan sahabat Mu’ad bin Jabal. Mereka berpendapat bahwa berpalingnya Rasulullah menghadap kiblat dari semula kiblat Baitul Muqaddas (di Indonesia lebih sering disebut Baitul Maqdis) di Palestina bergeser ke kiblat Ka’bah di Mekkah adalah karena dengkinya Nabi Muhammad Saw.
    Melalui ayat ini, Allah Swt bermaksud memberitahukan kepada umat manusia bahwa perubahan kiblat umat Islam ke kiblat Ibrahim yakni Ka’bah adalah karena alasan terbaik. Kata ‘wasath’ di sini adalah pilihan yang terbaik.

 

Menelaah Tafsir Q.S. al-Qasas/28 : 85 dan Q.S. al-Baqarah/2 : 143

  • a. Tafsir Q.S. al-Qasas/28 : 85
    Didalam ayat ini, Allah Swt menerangkan bahwa Dialah yang mewajibkan kepada Nabi Muhammad untuk mengamalkan isi Alquran, dan melaksanakan hukum-hukum dan perintah yang ada di dalamnya.
  •  
  • b. Tafsir Q.S. al-Baqarah/2 : 143
    Sejarah perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah dikandung maksud untuk menguji siapa antara mereka yang benar benar beriman dan mengikuti Rasulullah saw serta siapa yang lemah imannya. Untuk menghilangkan keragu-raguan dari sebagian kaum Muslimin, maka Allah menerangkan bahwa Dia sekali-kali tidak akan menyia-nyiakan iman dan amal orang-orang yang mematuhi Rasulnya.

 

Hadis tentang Cinta Tanah Air

Al-Hafidz Ibnu Hajar, Badr Al-Din Al-Aini (wafat 855 H) dalam kitabnya ‘Umdat al-Qari Syarh Shahih Bukhari menyatakan:
Pemaparan di atas menunjukkan bahwa cinta tanah air memiliki dalil yang bersumber dari Alquran dan Hadis. Sebagaimana ditegaskan oleh para ulama seperti; Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalany di atas.

 

Hadis tentang Moderasi dalam Beragama

Dalam literatur hadis, kata wasath hampir tidak ditemukan. Hanya saja, kata yang digunakan dalam padanan maknanya, yakni al-Qashd yang bermakna al-tawassuth dan al-I’tidaal.
Dari beberapa prinsip dasar dan karakteristik wasathiyah yang diintisarikan dalam hadis, dikutip dari tulisan Ardiansyah, Islam Wasathiyah Perspektif Hadis adalah terdapat beberapa prinsip:

  • al-khayriyah yang memiliki arti terbaik atau terpilih
  • al-‘adalah, yakni adil.
  • at-tawazun, yang berarti keseimbangan
  • at-tasamuh (toleran)
  • al-Istiqamah (konsistensi)
  • ra’f al-haraj (menghilangkan kesulitan)

 

Penerapan Cinta Tanah Air dalam Kehidupan Sehari-hari

Berikut contoh sikap cinta tanah air yang bisa kita lakukan dalam kegiatan sehari-hari:

  • a) Bangga sebagai bangsa Indonesia
  • b) Menjaga nama baik tanah air Indonesia
  • c) Menggunakan hak pilih dalam pemilu
  • d) Menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan
  • e) Aktif berpartisipasi dalam pembangunan nasional

 

Penerapan Moderasi Beragama dalam Kehidupan Sehari-hari

Islam sendiri dalam pembentukan hukumnya memiliki lima prinsip yaitu menjaga agama (hifdzal-din), menjaga jiwa (hifdzal-nafs), menjaga akal (hifdzal-aql) menjaga keturunan (hifdzal-nasl), dan menjaga harta (hifdzal-mal). Lima dari prinsip hukum Islam tersebut dapat digambarkan bahwa hak untuk hidup bersama dan menghargai keberadaan orang lain.

Cinta tanah air dan moderasi beragama merupakan nilai yang saling melengkapi. Keduanya saling mendukung dan memperkuat satu sama lain. Dengan mengamalkan kedua nilai tersebut, kita dapat menjadi warga negara yang baik dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

 

Posting Komentar